Sambil berbicara kesana-kemari, aku diam-diam memandangi tubuh itu. Sejak aku dan Eksanti memiliki keberanian untuk bercinta di tempat kostnya, aku semakin sering mampir ke sana. Bokep Botol saus tomat telah diletakkannya kembali.Tanpa banyak bicara, aku langsung menjilati saos tomat itu. Sedikit saja gerakanku mampu menimbulkan kobaran birahi yang membahana. Diam-diam aku meletakkan kaleng minumanku, lalu berjalan tanpa suara. Dengan gerak cepat, aku menyingkap roknya, sehingga membuat kewanitaannya terpampang bebas dalam terang lampu pantry yang bagai siang hari. Eksanti menggeliat, mencoba menghindar. “Hei..!” Eksanti menjerit kaget, “Mas, jangan nggangguin Santi dong.., ntar makanannya jadi nggak enak lho!”. Untunglah meja itu cukup lebar untuk menampung seluruh badannya, walau kedua kakinya tetap bergelantungan, disangga oleh bahuku. Aku terus menyedot, mengulum, mengunyah-ngunyah.




















