sini biar aku minum.” Aku mendesah penuh nafsu: “ini Nduk, obatnya ada dalam burung Mbah ini. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke bagian yang ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya. Bokep Kukecup kecup halus. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar, jangan mbohongi orang). Ada masalah apa nduk?” aku sekarang duduk di kursi di depannya, dibatasi meja yang penuh segala pernik perdukunan. Buka juga pakaian dalammu. Kataku sambil membimbingnya duduk di meja praktekku. Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. “Tenang Nduk..tenang.. karena sudah terbelit nafsu aku sampai tidak menanyakan pertanyaan pertanyaan standar seorang dukun: rumahmu dimana, bapakmu siapa..Ah, aku menggeleng.




















