Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Bokep Apalagi yang dapat tertinggal? Ia memulai pijitan. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ah segar. Atau mau gunting? Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Haruskah kujawab sapaan itu? Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Aku masih mematung. Junior berdenyut-denyut. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Dingin. Kring..! Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Dari atas: Turun. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam.




















