Toh masih ada hari esok. Bokep ”
Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Dulu aku paling anti masuk salon. Ah, kini dia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Dalm fikiranku bertanya tanya, Dia kerja di sana, ataukah dia mau kesalon itu. Aku bergegas naik angkot yang melintas. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Fera. Selesai. Atau jangan-jangan dia juga disuruh ibunya bayar arisan. Begini saja daripada repot-repot. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Tapi masih terhalang kain celana. “ Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Aku tengkurap. ” ujarku sekenanya. “ Siapa Mbak..?




















