Kutekan lagi pinggulku lebih kuat. Kudengar ia mengerang dan mendesah, seirama dengan gerakan pinggulku. Bokep “Tentu saja,” katanya,
“aku juga minta maaf. Saat aku memindah perseneling, jemarinya terangkat dan menggenggam pergelangan tanganku. Bibirku bergerak sendiri meraih bibirnya. Aku hendak menarik tubuhku saat ia meraih lenganku. Tapi pandangan matanya membuatku terpaku. Pengalaman-pengalaman seksual ala sabun itu. “Shit,” bisikku, membuka mata, menundukkan tubuhku, lalu menciumi buah dadanya. “Thanks,” bisikku padanya. Jalanan tampak lengang. Tepat sebelum aku terlelap, kubisikkan sebuah pertanyaan padanya. “jangan buru-buru.” Ia benar-benar membuatku tak tahan saat ia menarik tali bra-nya yang lain. Jelas sudah ia mengetahui kalau aku memang masih perjaka. Tak ada satupun yang membuka pembicaraan. “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku lirih. “Tentu saja,” katanya,
“aku juga minta maaf.




















